Strategi Pembelajaran

Keberhasilan siswa dalam belajar sangat ditentukan oleh strategi pembelajaran yang dilakukan guru. Guru ditunutu untuk memahamai komponen-komponen dasar dalam melaksanakan pembelajaran di dalam kelas. Pengembangan strategi pembelajaran diarahkan pada bagaimana cara (strategi) , metode, atau kegiatan agar  proses  pembelajaran berlangsung dengan efektif dan efisien sehingga peserta didik memperoleh pengalaman belajar untuk mencapai tujuan. Proses pembelajaran  dilaksanakan dalam rangka memberi kesempatan kepada peserta didik memperoleh pengalaman belajar sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

Pada kurikulum suatu mata pelajaran  proses pembelajaran dilaksanakan sekitar penguasaan peserta didik terhadap materi pembelajarannya (Munir, 2008:78). Proses pembelajaran-pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk mempelajarai mata pelajaran-mata pelajaran .

Selanjutnya dalam strategi pembelajaran menekankan pada  pada peserta didik belajar  proses (learning by process), dan belajar produk ( learning by product). Belajar produk lebih menekankan pada aspek koginitif dan belajar proses dapat menekankan tercapainya tujuan belajar pada seluruh aspek baik kognitif , afektif, maupun psikomotorik.

Strategi pembelajaran yang menekankan pada peserta didik , lebih dikenal dengan istilah pembelajaran berpusat pada peserta didik (learner centered learning). Pembelajaran ini lebih berpusat kepada kebutuhan, minat, bakat, dankemampuan peserta didik sehingga pembelajaran akan menjadi sangat bermakna. Peserta didik memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi untukmencapai sasaran yang telah ditetapkan sendiri karena  merasa  dilibatkan dalam pembelajaran. Ia akan lebih termotivasi walapun tidak diawasi oleh pengajarnya. Ia ikut serta dalam merumuskan mengembangkan dan memproses materipembelajaran. Dalam hal ini guru (pengajar) berperan sebagai pemberi kemudahan (fasilitator) dalam pembelajaran.

Dengan pembelajaran berpusat pada peserta didik diharapkan dapat menghasilkan peserta didik yang berkepribadian ,pintar, cerdas, aktif, kreatif, kooperatif, mandiri, dan bertanggung jawab terhadap pembelajarannya sendiri. Terkait dengan strategi pembelajaran berpusat pada peserta didik ada beberapa alternative strategi pembelajaran sebagai berikut :

  1. a. Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif Dan Menyenangkan (PAKEM)

Untuk dapat melaksanakan PAKEM dalam kelas diperlukan guru yang kreatif dan inovatif. Guru harus berani dan selalu mencoba melakukan  pembaharuan dan perubahan, mau mencoba sesuatu yang baru, dan mau membandingkan antara yang biasa dilakukan dengan yang belum pernah dilakukan. Bahkan PAKEM memerlukan guru yang siap melakukan pengembangan dan penyempurnaan dalam proses pembelajaran. Lebih dari itu diharapkan guru tersebut mau meningkatkan kinerjanya dengan melakukan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan suatu strategi, pendekatan, dan metode mengajar yang digunakan. Menurut  Budimansyah (2001:9-10) ada 4 langkah yang harus diperhatikan guru dalam menggunakan PAKEM di sekolah yaitu : pertama, diperlukan kompetensi dan sekaligus kemauan (komitmen ) pada guru untuk menerapkan PAKEM dalam proses pembelajaran  . Untuk ini kepala sekolah perlu secara terus-menerus melakukan komunikasi dan motivasi kepada para pendidik di sekolahnya. Kedua, dperlukan bahan bacaaan (referensi )yang cukup ) bagi guru di pusat sumber belajar, laboratorium, perpustakaan sekolah.. Ketiga, PAKEM perlu dilatihkan di lembaga pelatihan dalam jabatan (Inservice training) seperti pusat pengembangan penataran guru (PPPG). Keempat, pengawas dan kepala sekolah perlu melakukan supervisi kelas untuk dapat mengetahui secara pasti tentang penerapan PAKEM dalam proses pembelajaran di dalan dan atau diluar kelas.

  1. b. Strategi pembelajaran dan pengajaran kontekstual ( Contextual Teaching And Learning)

Pembelajaran /pengajaran kontekstual adalah merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan membantu siswa memahami makna materi pelajaran yang dipelajari, yaitu menghasilkan materi dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari ( konteks pribadi, sosial dan kultural) sehingga siswa  memiliki pengetahuan/ketrampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan dari satu permasalahan/ konteks ke permasalahan konteks lainnya.

Pembelajaran berbasis CTL mempunyai karakteristik : kerjasama, tidak membosankan, belajar dan bergairah, pembelajaran terintegrasi menggunakan berbagi sumber , siswa aktif, sharing dengan teman, siswa kritis dan guru kreatif, dinding kelas dan barang-barang penuh dengan hasil karya siswa (peta-peta, gambar, artikel humor dan lain lain) dan laporan kepada orang tua bukan hanya raport, tetapi hasil karya siswa, hasil praktikum , karangan siswa, dan lain lain.

Selanjutnya, pembelajaran berbasis CTL akan lebih berdaya guna bila dalam pelaksanaannya mampu mengkombinasikan berbagai metode pembelajarn diantaranya : direct instruction (pembelajaran langsung), cooperative learning ( pembelajaran kooperatif), problem base instruction ( pembelajaran berdasarkan masalah), examples and examples ( gambar yang relevan dengan kemampuan dasar), number heads together (kepala bernomor), artikulasi, mind mapping, make a mach, role playing, demontration, discovery inquiry, concept sentence, complete sentence, metode ceramah bervariasi, metode diskusi, pemberian tugas, dan lain lain.

  1. c. Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK)

Pergesesaran paradigma dalam peran pendidikan yang semula terpusat menjadi desentralistik membawaq konsekuensi dalam pengelolaan pendidikan, khususnya di tingkat sekolah. Kebijakan penerapan KTSP dan pemberian otonomi pendidikan juga diharapkan melahirkan organisasi sekolah yangsehat serta tercapainya daya saing sekolah. Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi dan pembelajaran berbasis TI yang sangat pesat, hendaknya sekolah menikapinya dengan seksama agar apa yang dicita-citakan dalam perubahan paradigm pendidikan dapat segera terwujud. Kencenderungan yang telah dikembangkan dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pembelajaran adalah e-learning.

Secara sederhana e-learning dapat dipahami sebagai suatu proses pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi berupa kompuyter yang dilengkapi dengan sarana telekomunikasi (internet) multi media(grafis, audio, video) sebagai media utama dalam penyampaian materi dan interaksi antara guru dengan siswa (Riva’i, 2008:449).

Selanjutnya, model pembelajaran berbasis TIK berakibat pada perubahan budaya belajar dalam konteks pembelajaran. Settidaknya ada empat komponen penting dalam membangun budaya belajar melalui strategi pembelajaran ini. Pertama, siswa dituntut secara mandiri dapat belajar dengan menggunakan berbagai pendekatan yang sesuai agar ia mampu mengarahkan , memotivasi, mengatur dirinya sendiri dalam pembelajaran. Kedua, guru mampu mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan , memfasilitasi pembelajaran, memahami belajar dan hal-hal yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Ketiga, tersedianya infrastruktur yang memadai. Keempat, tersedianya administrator yang kreatif serta penyiapan infrastruktur dalam memfasilitasi pembelajaran.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: